√ 3 Cara Memberikan Saran yang Baik dan Benar - Magersena
Diberdayakan oleh Blogger.

3 Cara Memberikan Saran yang Baik dan Benar

Penghalang saat memberi saran



Seringkali, orang-orang terlalu cepat memberikan saran dan akhirnya saran yang diberikan salah, mungkin karena kita tidak menjawab akar permasalahan yang tepat atau terlalu cepat mengambil kesimpulan.


Hal ini disebut sebagai penghalang yang ada di dalam diri setiap orang dan menghambat orang tersebut dalam memberikan saran yang benar. Dengan mendengar yang mendalam, kita bisa bersama-sama mencari akar permasalahan dan pada akhirnya telah mencapai jawaban terbaik.


1. Berpikir sebelum memberikan saran 


Semakin dewasa, rasa penasaran akan semakin menurun. Hal ini disebabkan, ketika beranjak dewasa, kita dihargai ketika mampu memberikan jawaban atau berbicara seperti seorang ahli.


Tapi yang seharusnya didorong adalah bagaimana bertanya hal yang tepat. Inilah hal yang perlahan membuat rasa penasaran kita menurun. Padahal dalam dunia yang kompleks saat ini, rasa penasaran itu sangat penting.


Anda tidak perlu berusaha menjadi orang yang paling tahu dan mulai menyadari keterbatasan dalam berpikir. Justru, ketika Anda menjadi orang yang merasa paling tahu mungkin Anda sedang dalam mode Dunning-Kruger Effect.


Ini merupakan fenomena dalam psikologi yang dapat didefinisikan sebagai bias kognitif yang berarti seseorang keliru menilai kemampuan yang dimiliki diri sendiri. Mereka merasa lebih pintar dan lebih tahu daripada orang lain di sekitar, padahal kenyataan tidak begitu.


Kita bisa menggunakan kembali rasa penasaran untuk mulai memahami sebuah masalah dengan lebih baik. Tinggalkan pemikiran yang menganggap Anda adalah orang yang ahli, coba mundur satu langkah dan mulai melihat sebuah masalah dari perspektif yang baru dengan rasa penasaran yang lebih tinggi.


Baca juga : berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk merasa cukup


Tahan diri untuk memberikan jawaban ketika ada orang yang bertanya dan usahakan menjawab di waktu yang tepat. Bayangkan sebuah situasi, tim Anda datang untuk meminta nasehat atas permasalahan yang sedang dihadapinya, situasinya terdengar begitu kompleks, dan disertai banyak penjelasan teknis yang Anda sendiri tidak terlalu paham.


Setelah mendengar dia bicara, Anda langsung terpikirkan sebuah ide yang terlihat bagus. Ini adalah pola yang berbahaya karena kadang ketika seseorang datang meminta nasehat, masalah yang diungkapkan bukan masalah yang sebenarnya, namun hanya gejala.


Tapi, jika Anda tidak menggali lebih lanjut dan memilih untuk buru-buru menjawab pertanyaan maka hal ini bisa berbahaya karena Anda akan menjawab pertanyaan yang salah.


hal ini bukan berarti Anda tidak boleh memberikan saran apapun, tapi sebagai seorang pemimpin, tim terkadang meminta arahan dari seseorang. Anda mungkin tidak memiliki semua jawaban dari pertanyaan yang ada dan itu sah-sah saja.


Melalui proses tukar pikiran dan diskusi, Anda dan tim mungkin bisa menemukan solusi terbaik. Selain itu, proses ini akan membantu tim agar tidak terlalu bergantung pada seseorang dan bisa bekerja secara mandiri tanpa perlu supervisi terus menerus.


2. Kenali 3 penghalang di dalam diri


Anda mungkin pernah bertemu seseorang yang selalu meminta saran dan Anda merasa harus punya semua jawaban dari setiap pertanyaan. Hal itu membuat Anda terjebak dalam perangkap si pemberi saran.


Anda merasakan kalau Anda adalah bagian penting dari masyarakat atau sebuah tim, semua orang harus pergi kepada Anda jika mereka mengalami sebuah masalah.


Ada tiga penghalang dalam diri seseorang saat memberikan saran yaitu :


  1. Tell It Advice
  2. Save It Advice
  3. Control It


Tell It Advice adalah kondisi di mana Anda merasa kalau Anda wajib menjawab setiap pertanyaan yang muncul. Tanpa sadar, Anda akan melihat diri sendiri sebagai orang yang paling pintar atau paling bijak.


Ini adalah kondisi yang berbahaya. Jika Anda merupakan sebuah pemimpin dari sebuah tim dan setiap ada masalah, Anda pasti selalu mengeluarkan ide dengan terburu-buru.


Hal ini akan merusak kinerja sebuah tim dan menghancurkan kreativitas. Anggota tim pasti setuju karena Anda adalah bos, tidak mungkin mereka menolak ide seorang bos. Inilah yang membuat tim tersebut menjadi buruk karena ide yang dikeluarkan belum tentu ide yang terbaik.


Save it advice adalah Anda merasa kalau tugas Anda sebagai seorang pemimpin hanya untuk memastikan tidak ada masalah apapun dan harus menyelamatkan semua orang dari masalah.


Dalam jangka pendek, hal ini terlihat baik dan Anda terlihat seperti seorang pahlawan. Anda terlihat sebagai orang yang selalu peduli dengan tim dan perusahaan. Tapi, dalam jangka panjang, hal ini bisa berdampak buruk.


Seiring berjalannya waktu, Anda akan merasa lelah dan berusaha untuk menyelamatkan segalanya. Di sisi lain, orang-orang bisa saja bekerja tanpa punya tanggung jawab karena mereka berpikir bahwa Anda pasti akan datang untuk menyelamatkan.


Control it advice adalah Anda merasa kalau Anda harus punya kendali pada setiap aspek yang ada. Jika Anda mendelegasikan sebuah pekerjaan, maka akan terjadi bencana yang besar.


Kurang rasa percaya akan menjadi penyebab Anda merasa kalau orang lain tidak bisa mengerjakan sebuah pekerjaan dengan baik. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan membuat perusahaan tidak bisa berkembang dengan maksimal.


3. Cara memberi saran yang tepat


Ketika menghadapi sebuah masalah, seorang pemimpin harus melihatnya dari dua sisi yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, Anda dan tim harus bisa menemukan solusi terbaik.


Hal ini hanya bisa dicapai melalui banyak tukar pikiran dan bukan hanya berasal dari ide seseorang. Sedangkan dalam jangka panjang, seorang pemimpin harus bisa menciptakan sebuah tim yang kreatif, percaya diri, dan mampu bekerja secara independen.


Hal ini hanya bisa tercapai, apabila seorang pemimpin bersedia untuk diam sejenak ketika ada masalah muncul, mendengarkan secara mendalam dan menggali lebih jauh soal masalah yang sebenarnya terjadi.


Baca juga : cara mengubah tantangan menjadi kesuksesan


Contoh, ketika anggota tim Anda datang membawa masalah, jangan terburu-buru untuk menjawab. Diam dan dengarkan apa yang dia katakan lalu beri dia beberapa pertanyaan. Cara ini akan berusaha menggali akar masalah yang sebenarnya


Setelah itu, Anda bisa bertanya, apa yang kamu mau ? Hal ini membuat dia mulai berpikir dan memberikan solusi yang berasal dari dirinya sendiri. Kemudian Anda bertanya lagi, apa yang bisa saya bantu untuk masalah ini ?


Ingat, Anda bukan seorang superhero yang bertugas menyelesaikan setiap masalah yang muncul. Tugas Anda sebagai seorang pemimpin adalah membimbing anggota tim, bukan berusaha menyelesaikan semua masalah.


Setelah selesai diskusi, ambil sebuah pelajaran dari sesi diskusi tersebut. Pembelajaran itu tidak terjadi saat memberikan solusi dari masalah tapi muncul dari proses berpikir yang panjang.

Get notifications from this blog